Kembali

Love Self, Family and Friends

Sisi gelap media sosial untuk remaja

Sisi gelap media sosial untuk remaja


Media sosial bukan lagi hal yang aneh di berbagai kalangan, termasuk anak remaja. Tidak bisa dipungkiri kalau media sosial memang menghadirkan berbagai dampak positif. Beberapa di antaranya adalah mudahnya akses informasi dan ilmu pengetahuan, hingga mendorong anak untuk mengekspresikan diri.

Tapi ternyata, media sosial juga bisa memicu berbagai dampak negatif jika digunakan para remaja tanpa pengawasan dan pengetahuan yang tepat. Beberapa dampak negatif yang mengintai anak remaja adalah kecanduan, kesepian, hingga munculnya rasa depresi.

Baca Juga : Menurut zodiak, ini cara berteman sama orang asing di internet - Charm Girl's Talk

Menurut penelitian dari McMaster University, banyak remaja yang kesulitan membagi waktu mereka dan kecanduan dengan media sosial. Selain itu, sebuah penelitian dari Canadian Journal of Psychiatry mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial pada remaja bisa meningkatkan gejala depresi. Sebenarnya apa saja dampak negatif dari media sosial pada remaja dan apa saja alasannya?

Menimbulkan rasa cemburu
Media sosial sebenarnya hanya menampilkan sisi terbaik dari seseorang. Foto-foto liburan, barang-barang mewah yang dibeli, hingga kegiatan seru yang dilakukan saat akhir pekan, hanyalah sebagian kecil dari hidup seseorang.

Tapi terkadang, remaja belum paham dengan hal tersebut. Secara tidak langsung, buah hati kita jadi sering membandingkan diri mereka dengan orang lain sehingga menimbulkan rasa cemburu. Hal ini juga membuat mereka jadi rendah diri atau minder dengan kondisi orang lain yang mereka lihat di media sosial.

Ikut-ikutan perilaku buruk
Konten yang diunggah di media sosial juga tidak selalu mengandung nilai positif, misalnya konten tentang narkoba, alkohol, hingga perilaku seksual. Terkadang, remaja menganggap konten tersebut terlihat keren atau menarik dan penasaran untuk melakukan perilaku yang sama.

Sisi gelap media sosial untuk remaja
Mengikuti Perilaku Buruk
Sisi gelap media sosial untuk remaja
Rentan dengan Bullying

Pasalnya, remaja masih mengalami perkembangan fisik dan mental. Ada salah satu bagian dari otak manusia yang masih berkembang saat mereka masih remaja, yaitu korteks prefrontal. Bagian otak ini berfungsi untuk berpikir dan memutuskan sesuatu, sehingga saat belum berfungsi sempurna, remaja cenderung belum bisa sepenuhnya menilai moral.

Rentan cyber-bullying
Remaja termasuk kelompok yang rentan dengan bullying atau perundungan. Hal tersebut juga kerap terjadi di media sosial. Beberapa bentuk perundungan yang terjadi di media sosial adalah komentar dengan kata-kata kasar, penyebaran informasi yang memalukan, hingga melecehkan dan menyerang privasi seseorang.

Penggunaan media sosial oleh remaja yang tidak diawasi bisa meningkatkan kasus perundungan karena mereka merasa tidak ada tanggung jawab dan resiko dalam melakukan perilaku yang kurang pantas di media sosial.

Membagikan hal privasi
Media sosial memang kerap memberikan ilusi bahwa kita aman dan terlindungi di balik akun digital. Namun masalah privasi di internet memang masih jadi perdebatan. Remaja yang belum paham tentang hal ini, bisa saja secara tidak sadar memberikan informasi yang bersifat pribadi di dunia maya.

Foto atau video yang diunggah di media sosial secara tidak langsung bisa membocorkan informasi pribadi seperti nama lengkap, tempat tinggal, hingga nomor telepon. Hal-hal tersebut bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi sisi gelap dari media sosial yang bisa membahayakan buah hati kita? Berikut beberapa tips yang Parents bisa lakukan untuk meminimalisir dampak negatif dari media sosial:

Sisi gelap media sosial untuk remaja
Orangtua adalah Role Model Anak

1.Pelajari dan berikan contoh
Melarang anak untuk menggunakan media sosial bukan solusi yang tepat. Yang bisa Parents lakukan adalah dengan mempelajari media sosial yang digunakan dan berikan contoh bagaimana menggunakan akun mereka dengan benar. Pada dasarnya orang tua adalah role model bagi anak. Sehingga dengan memberikan contoh yang baik, anak-anak bisa melakukan hal yang sama.

2.Ajarkan rasa tanggung jawab
Remaja yang sedang mencari jati diri perlu diajarkan tanggung jawab dan resiko menggunakan media sosial. Ajarkan mereka tentang resiko yang terjadi jika mengikuti perilaku yang tidak baik atau membagikan hal yang kurang pantas di media sosial. Jangan takuti mereka dengan ancaman, tapi tekankan bahwa setiap orang punya tanggung jawab beretika di media sosial. Tekankan juga informasi mengenai perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, sehingga mereka paham batasan dan norma-norma yang berlaku saat menggunakan media sosial.

3.Hargai privasi dan terapkan batasan
Untuk menghindari rasa kecanduan dengan media sosial, Parents harus menetapkan batasan yang disesuaikan dengan umur anak. Batasan tersebut bisa berupa batasan waktu atau batasan konten yang diunggah dan dikonsumsi.

Dari segi waktu, Anda bisa memberikan misalnya 1 jam untuk menggunakan smartphone saat di sore hari atau hanya izinkan sang buah hati membuka sosial media dari aplikasi Chrome atau Safari saja; sehingga Anda bisa melihat browsing history mereka. Ohya, fitur-fitur canggih seperti Parental Control juga dapat membantu Anda. lho. Jadi, maksimalkan teknologi yang ada, Parents! Tetap hargai privasi anak, namun jangan sampai lengah untuk mengawasinya ya, Parents.

Komentar (43)
A

Mn
Mega novanti
oke thanks infonya
3 years ago
Balas
An
Anonymous
Ok
2 years ago
Hr
Hasnah ritonga
Trimakasih infonya
2 years ago
Balas
Avatar Profile Image
momos talaga
penjelasaan dari artikel yang sangat menarik menambah ilmu dan pengetahuan lain tentunya
2 years ago
Balas
floating-icon