Kembali

My Growing Up Body

Pubertas-proses menuju kedewasaan

Pubertas-proses menuju kedewasaan


Melihat perkembangan fisik anak laki-laki dan perempuan yang berkembang pesat menuju pubertas memang memiliki keajaibannya tersendiri. Waktu memang berjalan dengan begitu tepat, tiba-tiba Ia tumbuh dewasa.


Saat sang buah hati, terutama putri Anda memasuki masa pubertas dan mengalami menstruasi pertamanya, akan ada satu konsekuensi yang harus orang tua hadapi, yaitu sebuah tanggung jawab yang cukup besar untuk berada bersamanya di masa-masa transisi. Pada masa pubertas akan banyak sekali hal yang terjadi. Perbedaan fisik laki-laki dan perempuan harus membuat Anda memberikan perhatian lebih.

Baca Juga : Mendukung pasangan saat masa pubertas anak - Charm Girl's Talk

Namun, mungkin saja perhatian tersebut tidak dapat diterima sepenuhnya oleh anak. Jika perhatian Anda berlebihan, sang buah hati mungkin saja menjadi pembangkang atau suka berbohong. Sedangkan, jika sang anak kurang perhatian, maka Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang sendu dan merasa terasing.

Tricky banget, Parent! Percayalah pertumbuhan dan pubertas mereka bukan berarti sudah menjadi dewasa seutuhnya. Buah hati Anda membutuhkan orang tuanya lebih dari yang Anda sadari.

Mengenali fenomena menikah muda


Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mengkategorikan pernikahan muda di Indonesia dalam empat rentang usia, yakni usia 15 tahun ke bawah, usia 16-18 tahun, usia 19-24 tahun dan usia 25-30 tahun. Dengan pembagian ini, pernikahan usia muda masuk pada rentang usia 19-24 tahun. Sesuai dengan UU Kepemudaan, usia yang masuk kategori pemuda dibatasi hingga usia 30 tahun. Total pemuda Indonesia mencapai 63,82 juta, dari jumlah itu yang sudah menikah baru 25,7 juta.

Pubertas-proses menuju kedewasaan
Menikah Muda

Sebagai contoh, di sebuah desa di Indonesia, banyak sekali anak-anak perempuan yang memutuskan untuk menikah muda. Usia rata-rata anak perempuan tersebut adalah 16 tahun, Parents! Masih sangat muda, bukan? Di Negara Indonesia sendiri memang umur tersebut sudah dianggap sah untuk menikah. Namun, sadarkah Anda bahwa psikologis, organ seksual dan mental mereka belum benar-benar matang! Apalagi urusan finansialnya.


Hal ini cukup menyedihkan. Ditambah emosi yang masih labil. Keluhan-keluhan pernikahan seringkali menjadi momok yang seharusnya tak jadi masalah untuk seorang anak perempuan di umur tersebut. Kemampuannya dalam berkomunikasi, memiliki rasa tanggung jawab , dan sikap untuk belajar tentunya masih sangat minim, Parents. Ini baru dari masalah psikis saja, lho.

Menikah dengan perkembangan organ tubuh yang belum sempurna benar-benar sangat berbahaya. Anak perempuan yang organ seksualnya belum berfungsi secara optimal sangat berisiko untuk mengalami kematian janin, kanker dinding rahim juga infeksi menular seksual.Adapun dampak lainnya apabila sang buah hati mengalami persalinan yang prematur. Bayinya akan memiliki berat badan lahir rendah, sindrom gawat pernafasan dan pneumonia. Terjadinya kelainan saat kehamilan maupun setelah persalinan usia muda akan menyebabkan terjadinya kecacatan atau abnormalitas. Cukup mengerikan, yah.


Pada kehidupan bersosial, pernikahan dini merupakan pernikahan yang masih rawan dan belum stabil, pada usia remaja emosi masih sangat labil. Tingkat kemandirian yang masih rendah sehingga banyak ditemukan kasus perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga dan berujung pada perceraian.

Parents, perhatikan baik-baik….


Banyak sekali isu mengenai nikah muda yang berpengaruh erat dengan hubungan seorang anak dengan lawan jenisnya. Masa pubertas yang kini muncul lebih awal karena faktor makanan, lingkungan, hingga media begitu juga dengan gaya berpacaran anak zaman now yang lebih “berani” akan menjadi tugas Anda sebagai orang tua untuk menjaganya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ingat, tubuh putri Anda memang sudah dewasa, namun belum sempurna.

Peran keluarga dan lingkungan dalam mendukung sang buah hati


Keluarga akan menjadi titik pusat untuk sang buah hati mengambil keputusan. Keterlibatan orangtua adalah strategi utama untuk menciptakan suatu lingkungan yang baik, disebabkan karena di tangan keluarga dan anggota masyarakat yang tuakan-lah keputusan pernikahan anak dilakukan atau tidak. Lakukanlah percakapan dari ke hati ke hati setiap hari, Parents. Bangunlah kepercayaannya terhadap Anda, dan bukalah pikiran Anda untuk mengerti sang buah hati seutuhnya.

Pubertas-proses menuju kedewasaan
Peran Orang Tua Mendukung Sang Buah Hati

Anda sebagai orang tua perlu pula untuk menyadari bahwa pubertas adalah sebuah awal dari proses pendewasaan yang panjang. Apapun yang terjadi, Anda harus sepenuhnya sadar atas konsekuensi dan alternatif terhadap pernikahan anak.

Komentar (0)
A